Ada perasaan yang tidak biasa ketika waktu telah tiba pada ujungnya. Tawa, lara, kecewa dan cinta bercampur menjadi sebuah rasa. Tak jarang emosi ikut beradu, Hingga akhirnya keikhlasan mampu aku tanamkan. Mengenalmu seperti cahaya lampu yang dapat ku nikmati dalam rangkaian cerita yang tak selamanya mudah. Namun, cahaya lampuku telah redup ketika harapan melihat senyummu berakhir dengan orang lain. Aku menyadari apa yang menjadi pilihanmu dan tak berhak untukku membatasinya. Meski caranya tak pantas, aku mengerti, aku bukanlah pelepas segala dahagamu. Aku hanya embun yang berhasil menyejukkan senjamu di masa lalu. Tuhan memang tidak menciptakanmu untuk menyempurnakanku. Tuhan hanya mengirimmu sebagai guru untukku sebelum akhirnya kutemukan penyempurnaku. Bersyukurlah karena waktu telah berhasil mendewasakan kita hingga mampu berdamai dengan masa lalu. Darimu aku belajar bahwa berjumpa dan berpisah hanya masalah waktu. Perihal perwujudan harapan, aku tak punya kuasa ...