Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Sepertiga Malam

Kala hujan menyapa Menggenangi suasana malamku Menodai sepinya hati Menghamburkan lamunan bayangan diri Ku bentangkan sajadah cinta Di atas kayu rapuh yang menyangga Dalam sepertiga malamku yang terjaga Ku tumpahkan segenap rasa yang tertanam Tumbuh dan ku lepas dalam sujud malam Betapa sejuknya jiwa dan hati Kala kening menyapa lantai dalam ketulusan Sungguh… Kau peneduh dalam liku kehidupan Dalam naungan ridho-Mu Ku lantunkan syair asma-Mu Saat rembulan menerangi jubah miqna’ku Berteman lentera kuning Yang menua dimakan waktu Dalam tunduk dekapan rahmat sang semesta Menaungi segenap insan yang pasrah pada ilahi Dalam raga… Tersimpan sejuta hasrat di mata Terbaca kata suka di lekukan bibir Tersimpan rahasia cinta Dalam doa yang terlantunkan Aku, yang menjadi pilihanmu Kamu, yang menjadi doaku Menata diri untuk sebuah kesiapan Menemukan tumpukan perbedaan Sebagai pemersatu dalam kekurangan Dalam balutan cinta ilahi Rabb ...

Dimensi Sore

Aku duduk dibalik jendela yang terbuka Menikmati hangatnya kopi sore itu Menatap mawar merah yang hampir layu Beralas kertas putih Entah ukiran tinta apa yang kan tertuang di tubuhnya teruntukmu yang kuharap membaca Aku menyukai hal-hal sederhana Bunga, kopi, kupu-kupu, hujan, Senyummu, juga doa-doa kita Tak ada yang istimewa di dunia ini, Bunga bermekaran lalu berguguran Kopi yang harus memaksa masa pahit untuk sebuah kenikmatan Kepompong yang melepas diri jadi kupu-kupu dan beterbangan Senyummu yang tiada luntur indahnya Serta banyaknya doa-doa yang ingin dikumandangkan Baru saja kalender di bilik pintu Memaksa untuk di tengok Kalender tahun ini, Oktober-mu Tak sampai sebulan jaraknya Aku tak berminat perayaannya Hanya ingin menanyakan Sudah siapkah dirimu merobek Lembar-lembar keresahan Masa lalu yang tak wajar? Bolehkah aku pasangkan kalender baru untukmu? Di setiap bilik pintu, Laksana pemerhati yang bertanya-tanya Mau ...

Waktu Telah Hadir ☘

. . Tak jarang aku merasa rindu Akan saling menyapa rindu Tak perlu menjelaskan sebab Apalagi menuntut insan sebagai penyebab Semua hanya tentang waktu Waktu yang tak bisa menetap Dan hanya bisa menatap Tak perlu pula menyalahkan waktu Karna waktu telah mendewasakan kita Karna waktu hadir berkontribusi Menciptakan warna di setiap langkah Tak perlu membuatku paham Karnaku mulai paham Menunggu tak sebercanda itu Aku senang, untukmu.. Tak lagi sekedar permainan Tak ada lagi air mata harapan Karna yang kan hadir adalah air mata syukur Doaku selalu ada untukmu Semoga senyum bahagia itu kan selalu ada padamu Bahkan selepas hari bahagiamu..

Dunia Baru ※

Telah tiba waktunya Ku harap kau membacanya di akhir senja yg kau nikmati dengan secangkir kopi Jiwamu kini telah terlilit cinta Tak ada lagi permainan Tak lagi sekedar harapan Detak jam dinding Menjadi saksi bergulirnya waktu Menjadi saksi terpautnya rindu Dalam kebersamaan itu Terikat janji tuk saling setia Sehidup semati mengumpulkan separuh jiwa Itulah awal dari bahagia Akadmu menjadi kunci pertama dari bahtera Pastikan kau genggam tanpa cela Karna itulah arti dari sebuah cinta Dalam setiap helai gaun pengantinmu Kutau, betapa bahagianya hatimu Betawa riangnya jiwamu Yang kini tlah mampu Melepas ikatan jarak Dan merajutnya menjadi sayap² merpati Tuk dibawa terbang tinggi Ke langit bersama Tak ada lagi malam yang sepi Tak ada lagi malam yang sunyi Selamat menempuh hidup baru, sahabat Selamat mengukir tawa dn canda bahagia, bersama Semoga senyum bahagia itukan selalu tersirat Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah Semoga memiliki putra ...

Telah Usai 🌸

Ada perasaan yang tidak biasa ketika waktu telah tiba pada ujungnya. Tawa, lara, kecewa dan cinta bercampur menjadi sebuah rasa. Tak jarang emosi ikut beradu, Hingga akhirnya keikhlasan mampu aku tanamkan. Mengenalmu seperti cahaya lampu yang dapat ku nikmati dalam rangkaian cerita yang tak selamanya mudah. Namun, cahaya lampuku telah redup ketika harapan melihat senyummu berakhir dengan orang lain. Aku menyadari apa yang menjadi pilihanmu dan tak berhak untukku membatasinya. Meski caranya tak pantas, aku mengerti, aku bukanlah pelepas segala dahagamu. Aku hanya embun yang berhasil menyejukkan senjamu di masa lalu. Tuhan memang tidak menciptakanmu untuk menyempurnakanku. Tuhan hanya mengirimmu sebagai guru untukku sebelum akhirnya kutemukan penyempurnaku. Bersyukurlah karena waktu telah berhasil mendewasakan kita hingga mampu berdamai dengan masa lalu. Darimu aku belajar bahwa berjumpa dan berpisah hanya masalah waktu. Perihal perwujudan harapan, aku tak punya kuasa ...