Pada masa kini, polusi udara semakin meningkat tinggi. Bahkan udara di lingkungan sangat tercemari oleh radikal bebas baik berasal dari asap kendaraan maupun melalui asap rokok. Hal ini tentu dapat berdampak pada kesehatan manusia. Radikal bebas adalah molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif (Fessenden, 1986). Proses metabolisme seperti mitokondria dan inflamasi, asap rokok, polusi lingkungan maupun ultraviolet akan mempengaruhi terbentuknya Reactive oxygen spesies yangmerupakan senyawa dari radika bebas (Langseth, 1995). Radikal bebas dapat menyerang sel-sel dalam tubuh yang dapat menyebabkan berbagai jenis kanker (Rohman dkk, 2006). Menurut Behera dkk (2006) radikal bebas juga berpotensi menyebabkan hipertensi, alzheimer, parkinson, hipertensi, peradangan, penuaan dini dan penurunan fungsi ginjal.
Manusia sangat membutuhkan antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas terhadap sel normal, protein, dan lemak, karena dapat menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas (Hariyatmi, 2004). Antioksidan dapat diproduksi dari dalam tubuh berupa enzim superoksida dismutase, glutation peroksidase, katalase. Selain itu, antioksidan juga dapat diperoleh dari luar tubuh melalui asupan gizi yang mengandung vitamin C, vitamin E, dan betakarotin, karena dapat mencegah kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas.
Usaha manusia dalam melakukan pencegahan terhadap efek yang ditimbulkan oleh radikal bebas yaitu salah satunya dengan rajin berolahraga. Kegiatan berolahraga dapat meningkatkan enzim antioksidan alami yang digunakan untuk menetralisir kerja setiap radikal bebas yang merusak. Namun, apabila kegiatan olahraga dilakukan secara berlebihan akan membuat tubuh membutuhkan banyak asupan oksigen sehingga dapat memicu timbulnya radikal bebas dalam tubuh.
Temulawak (Curcuma zanthorrhiza)
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan banyak memiliki tanaman-tanaman yang berpotensi untuk menangkal radikal bebas salah satunya adalah temulawak (Curcuma zanthorrhiza). Temulawak merupakan tumbuhan obat keluarga Zingiberaceae yang berukuran besar, bercabang-cabang, serta bewarna coklat kemerahan, kuning tua atau hijau gelap. Tiap tunas dari rimpang memiliki 2-9 helai daun dengan panjang daun 31 cm – 84 cm dan lebar 10 cm – 18 cm.
Temulawak adalah tanaman yang mengandung antioksidan yang dibutuhkan tubuh dalam menangkal radikal bebas. Temulawak mengandung tiga jenis kurkuminoid yang memiliki efek antioksidan dalam ekstrak temulawak dan aktivitas antioksidan ekstrak temulawak lebih besar daripada ketiga kurkuminoid tersebut (Jitoe dkk, 1992).
Antioksidan Dalam Temulawak Sebagai Penangkal Radikal Bebas
Antioksidan memiliki peranan penting dalam menangkal radikal bebas. Aktivitas antioksidan dapat ditentukan dengan melihat kemampuan ekstrak temulawak dalam menghambat radikal bebas. Berdasarkan penelitian Rosiyani (2010) rimpang temulawak yang berumur 9 bulan memiliki aktivitas lebih besar bila dibandingkan dengan rimpang temulawak yang berumur 7 atau 8 bulan karena semakin tinggi kadar kurkuminoid dalam ekstrak temulawak maka semakin tinggi pula kapasitas antioksidan tersebut. Mengonsumsi air temulawak dapat menghambat efek buruk dari radikal bebas. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ali Rosidi dkk (2014) dalam jurnalnya yang berjudul Potensi Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) sebagai antioksidan, bahwa ekstrak temulawak memiliki aktivitas antioksidan sebesar 87,01 ppm tergolong aktif. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak temulawak berpotensi sebagai antioksidan alami yang baik.
Penutup
Kandungan gizi dalam temulawak sangatlah banyak sehingga dapat membuat tubuh lebih kebal dari bebagai berbagai penyakit. Oleh karena itu, mengonsumsi temulawak sangat baik bagi kesehatan tubuh.
Referensi
Rosidi, Ali., Khomsan, Ali., dkk.2014.”POTENSI TEMULAWAK (CURCUMA XANTHORRHIZA ROXB) SEBAGAI ANTIOKSIDAN”.Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang
Komentar
Posting Komentar