Aku duduk dibalik jendela yang terbuka
Menikmati hangatnya kopi sore itu
Menatap mawar merah yang hampir layu
Beralas kertas putih
Entah ukiran tinta apa yang kan tertuang di tubuhnya
teruntukmu yang kuharap membaca
Aku menyukai hal-hal sederhana
Bunga, kopi, kupu-kupu, hujan,
Senyummu, juga doa-doa kita
Tak ada yang istimewa di dunia ini,
Bunga bermekaran lalu berguguran
Kopi yang harus memaksa masa pahit untuk sebuah
kenikmatan
Kepompong yang melepas diri jadi kupu-kupu dan
beterbangan
Senyummu yang tiada luntur indahnya
Serta banyaknya doa-doa yang ingin dikumandangkan
Baru saja kalender di bilik pintu
Memaksa untuk di tengok
Kalender tahun ini,
Oktober-mu
Tak sampai sebulan jaraknya
Aku tak berminat perayaannya
Hanya ingin menanyakan
Sudah siapkah dirimu merobek
Lembar-lembar keresahan
Masa lalu yang tak wajar?
Bolehkah aku pasangkan kalender baru untukmu?
Di setiap bilik pintu,
Laksana pemerhati yang bertanya-tanya
Mau kemana? Bagaimana hari ini?
Hidup tanpa jendela itu hampa
Tak bisa menyapa mentari yang setia menemani langkahmu
Tak bisa menggoda bintang hingga berjatuhan
Sewaktu waktu, sedekat ambang dan daun jendela
Sewaktu tertutup berdekapan
Sewaktu terbuka tetap berdekatan
Dan aku memilih mengakhiri sajak sore ini,
Dengan menutup jendela-jendela ruang, perlahan-lahan,
Aamiin.
Komentar
Posting Komentar